Menu Click to open Menus
Home » Inspirasi Wanita » Iman, Islam & Kesehatan

Iman, Islam & Kesehatan

(1892x Dibaca) August 8, 2017 12:17 pm | Published by | No comment

Jualan-Meningkat3

AGAMA Islam dikenal kaya dan luar biasa terhadap nilai-nilai dan ajaran. Umat Islam tidak semata diajak mengimani akhirat tetapi juga dipandu agar bahagia hidup di dunia ini dengan praktik-praktik hidup yang menyehatnya jiwa dan raga (fisik). Jika diamalkan, maka kebahagiaan masa depan –baik di dunia atau pun akhirat– insya Allah dapat diwujudkan.

Di antara ajaran Islam yang sangat penting adalah bagaimana kita harus memperhatikan tiga perkara penting dalam hidup kita. Tiga perkara itu adalah; iman, Islam dan kesehatan.

Jika ada perkara yang nilainya tiada tara dalam kehidupan dunia ini, maka itu adalah IMAN. Untuk memahami hal ini, kita bisa mengambil hikmah dari apa yang Allah gambarkan di dalam Al-Qur’an, yakni wasiat Nabi Ibrahim kepada anak keturunannya.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Bqarah [2]: 132).

Dengan kata lain, jika ada yang harus dipegang teguh, meski harus meregang nyawa, maka itulah iman.

Mengapa? Karena tanpa iman, kebaikan yang dilakukan, sama sekali tidak akan berguna di sisi-Nya. Inilah alasan penting, mengapa kita dilarang mempersekutukan Allah.

Jadi, teruslah perhatikan iman kita, jangan sampai tergores, apalagi rusak atau patah. Karena kehilangan iman adalah kerugian tiada tara. Penulis buku La Tahzan, Aid Al-Qarni berkata, “Manakala kita berlepas diri dari Islam ini, otomatis kita telah berlepas diri dari kemuliaan, keaslian, kejayaan, dan keagungan kita.”

Setelah iman, yang harus menjadi prioritas kita adalah ISLAM. Pernahkah kita menyadari bahwa nikmat Islam ini adalah nikmat luar biasa yang langsung dari-Nya?

فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” QS. Al-An’am [6]: 125).

Akan tetapi, nikmat Islam ini jarang disadari, sehingga sedikit kurang uang, mengeluh. Sedikit sakit, galau. Sedikit diuji, gelisah.

Sementara, kala diberi kemudahan, lupa sama Allah Ta’ala. Kita mudah sekali tersadarkan oleh kurangnya nikmat material, tetapi sama sekali tidak sadar dengan dahsyatnya nikmat Islam yang telah bersarang dalam dada.

Lantas bagaimana cara memelihara keislam-an dalam diri kita?

Contoh saja Rasulullah dalam kesehariannya. Shalat tidak terlewat, baca Al-Qur’an setiap hari. Infak-sedekah, bahkan zakat tidak perlu disuruh-suruh. Berpuasa dan menunaikan haji bila mampu.

Terakhir adalah nikmat KESEHATAN. Nikmat sehat ini kadangkala tidak benar-benar dipahami sebagai hal yang sangat berharga. Padahal, tanpa sehat, iman tidak maksimal dan ke-Islam-an juga tidak akan optimal.

Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim memperhatikan kesehatannya. Mulai dari kesehatan fisik sampai kesehatan hati.

Lalu,

Bagaimana menerapkan hidup sehat sama pentingnya dengan bagaimana terus meningkatkan iman dan taqwa? Seorang dai yang malang melintang dalam dunia dakwah pernah berbagi tips, bagaimana hidup sehat.

Pertama, milikilah pola pikir makan apa yang diperlukan. Bukan apa yang menyenangkan. Kebanyakan orang, makan hanya apa yang disenangi, sehingga kadangkala lupa dengan apa yang diperlukan. Dengan memiliki pola pikir ini, maka tidak semua jenis makanan akan dimakannya, apalagi dalam waktu bersamaan.

Kedua, makanlah secukupnya. Makan secukupnya ini, menurut penuturan dai tersebut terinspirasi dari Kitab Misykat karya Imam Ghazali. Di sana disebutkan bahwa ada sahabat Nabi yang sehari sekali makan. Ada yang tiga hari sekali makan, ada yang sepekan sekali makan bahkan ada yang 40 hari sekali makan. “Wajar kalau Nabi dan para sahabat, rata-rata hidupnya sehat,” ucapnya.

Ketiga, ini yang sangat penting, jangan makan kecuali yang halal. Rizki itu sudah ditetapkan oleh Allah. Jadi tidak mungkin kurang, salah apalagi tertukar. Maka jangan sampai hanya karena urusan rizki (makanan) kita sampai menabrak-nabrak syariat Allah, hingga tidak peduli lagi halal-haram.

Keempat, bergeraklah. Setelah makan, orang zaman sekarang banyak yang diam bahkan tidur. Coba kita perhatikan bagaimana Rasulullah mengisi hari-harinya, tidak ada itu beliau malas apalagi banyak tidur. Kalau tidak jalan ya harus lari, intinya harus ada gerak.

Kelima, shalat. Shalat itu tidak semata ibadah, ia gerakan fisik. Kalau Rasulullah shalat, itu bisa sampai bengkak-bengkak. Artinya apa, kesehatan fisik yang menyatu dengan jiwa itu ada pada sholat. Jangan dibalik, zaman sekarang banyak orang cidera karena olahraga, sementara sholat kurang diperhatikan.

Dengan memperhatikan tiga perkara ini, harapannya, kita bisa dijadikan seperti Rasulullah yang tidak sakit sepanjang hidupnya melainkan hanya dua kali. Sebab, dengan senantiasa sehat, maka kita bisa produktif dalam amaal sholeh dan tentu saja tidak banyak membuah waktu, energi dan biaya untuk pengobatan.*

Simak Info Lainnya Di : Keluarga & Inspirasi

Jangan lupa di share ya..

Categorised in: , , | 1892x Dibaca

No comment for Iman, Islam & Kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *